Ada kesalahan di dalam gadget ini

Lapisan Es Yang Retak

     Pada suatu hari yang dingin dan bersalju, saat aku berusia sepuluh tahun, aku bersama anjing kecilku, Pudgy, berjalan-jalan jauh. setibanya kami di Danau Ponka, kira-kira dua mil jauhnya dari rumahku di utara Oklahoma, Pudgy tercebur ke dalam sungai yang membeku dan langsung lenyap! ketika muncul kembali ke permukaan air, ia berusaha dengan putus asa untuk memanjat ke luar, tetapi lapisan es yang ditapakinya runtuh. Ketika ia memandang ke arahku, matanya tampak memelas minta tolong.
     Aku tahu lapisan es itu sangat tipis dan aku pun bisa jatuh ke dalamnya. walau begitu, aku harus menyelamatkan Pudgy dari air yang membekukan. Aku berbaring di atas es, sebagaimana diajarkan ayah padaku, dan bergerak satu inchi demi satu inchi mendekati anjing itu. Saat bergerak ke arah Pudgy, bunyi retakan di es terdengar kian kencang di sekitarku. Sampai kini aku masih ingat bunyi yang menakutkan itu. Aku begitu takut (rasanya seperti akan ikut tercebur dalam sekejap) namun cintaku pada Pudgy jauh melebihi ketakutanku. Aku terus bergerak tanpa memedulikan bahayanya. Jantungku terdengar bergemuruh di telinga.
     Tiba-tiba, aku merasakan suatu cengkraman yang hangat, lembut, dan menguatkan dari luar sisi kiri dan kanan kakiku, tepat di atas lutut. Aku merasa ringan dan seperti sedikit terangkat. Entah kenapa aku merasa aman. Jantungku tak lagi berdebar. Meski aku terus merayap maju, aku juga merasa seperti didorong perlahan mendekati Pudgy. Aku mulai menikmati bunyi retakan es yang kini seperti musik saja. Aku tak lagi peduli atas resiko tercebur ke dalam danau es itu. Aku sama sekali tak takut!
     Aku meraih salah satu kaki Pudgy  dan menariknya keluar dari air, lalu melontarkannya ke tepi danau. Sementara topangan lembut oleh tangan-tangan tak terlihat itu masih terasa, aku berbalik dan merayap pelan menuju tepian. Sesampaiku di tepian, sentuhan tadi pun lenyap, dan dengan serta merta aku merasa badanku kembali berat.
     Sewaktu aku menoleh ke titik tempat aku dan Pudgy berada, terlihat serpihan-serpihan es berukuran kecil mengambang pada sebuah lubang yang teramat besar. aku melepaskan mantel dan mengeringkan Pudgy dengan sisi luar mantel tersebut, lalu membungkusnya dengan sisi dalamnya agar anjing itu tetap hangan dan berhenti menggigil. Setibanya kami di rumah, ibu memberiku pelukan hangat dan heran melihatku tidak kedinginan walaupun berjalan-jalan jauh di luar rumah tanpa jaket.
     Saat aku menceritakan peristiwa itu pada ibu, beliau hanya berujar, "Malaikat pelindungmu telah datang menolongmu. Mereka selalu melakukan hal itu jika kau memiliki cinta dalam hatimu."


Robert E. Parrish, Ph. D.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar